Chapter 10

In your arm i want to stay

Seungwan berlari menuju ruang rawat Irene, ia diberitahu oleh pengacara Lee karena Irene pingsan di kantor dan segera dilarikan ke rumah sakit. Ia membuka pintu ruang perawatan itu dan mendapati Irene yang sedang tertidur dengan infus di tangannya.

“Irene ah,” ujar Seungwan pelan memanggil istri tercintanya.

“Wan ah,” Irene perlahan membuka matanya dan memberikan sebuah senyuman, agar Seungwan tidak terlalu khawatir.

“Kamu sendirian di ruangan ini sayang?”

“Ada Yeri yang menemaniku, tapi dia sedang makan di kantin,” Seungwan sedikit lega mendengar hal itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu sayang?”

“Aku ingin kau mendengarnya dari dokter Wan ah, mungkin sebentar lagi dokter akan datang,” memang tidak lama kemudian dokter Kang datang untuk memeriksa kondisi Irene.

“Jadi anda suami nyonya Son,”

“Ya dokter,”

“Baiklah tuan Son, kondisi nyonya Son saat ini masih cukup lemah, mungkin ia akan di rawat untuk beberapa hari, untuk memastikan janin yang ada di dalam rahim nyonya Son baik-baik saja,”

“Janin?, maksud anda istri saya hamil dokter?”

“Ya tuan Son sudah 8 minggu,”

“oh my god, tapi apakah istri saya sudah siap untuk hamil dokter?”

“Melihat riwayat kesehatan nyonya Son, seharusnya nyonya sudah siap untuk memiliki anak tuan,” Irene melihat Seungwan dengan senyuman yang lebar.

“Terima kasih dokter, saya akan menjaga istri saya dengan baik,”

“Kalau begitu saya permisi tuan,” Seungwan melihat ke arah Irene dengan sangat bahagia.

 

“Appa?” gadis berusia 7 tahun itu berusaha untuk menghibur Seungwan yang dari tadi hanya terdiam melamun. Ia hanya menoleh sebentar dan tersenyum seadanya pada Hyo Joo.

“Appa kok diam aja,”  Tanya nya lagi, karena Seungwan memang jarang sekali diam seperti ini. Gadis itu memeluk Seungwan dan mulai menangis.

“Kok nangis?”

“Habisnya appa sama omma beberapa hari ini berlaku aneh, semuanya hanya diam. Hyo Joo jadi sedih melihatnya,” Irene memang sedang kesal dengan Seungwan, sudah berapa hari ini Seungwan harus tidur di luar karena Irene yang masih kesal dengan suaminya itu.

“Jangan sedih ya, appa sama omma baik-baik saja, cuman ada sedikit salah faham,”

“Jangan lama-lama salah fahamnya,”

“Iya sayang,” Seungwan mengecup dahi gadis kecilnya itu dan meminta ia bermain bersama pengasuhnya.

 

Malam itu Seungwan berusaha bicara pada Irene yang masih terlihat kesal.

“Kan aku dah bilang masih tidur di luar,”

“Ngak enak tidur di luar, ngak ada yang dipeluk,” peluk Seungwan dari belakang.

“Sampai kapan nih ngambeknya,” rengek Seungwan pada Irene yang masih saja memeluk istrinya. Irene tidak keberatan waktu Seungwan peluk, karena memang ia juga merindukan suaminya.

“Kalau aku ngak ngambek, kamu ngak akan peluk aku kayak gini kan?”

“Maaf ya Irene, aku tahu selama 1 bulan ini banyak proyek yang harus aku urus, sampai lupa kalau aku punya istri yang butuh aku sayang kayak gini,” Seungwan semakin mempererat pelukannya.

“aku tahu orangnya pekerja keras, tapi kamu juga harus ingat perhatian sekecil apapun yang kamu berikan ke aku sangat berarti Wan ah,”

“Maafin aku ya,” Irene masih diam di dalam pelukan suaminya.

“Gimana kalau kita liburan minggu depan?”

“Ngak bisa, kan Hyo Joo masih sekolah,”

“Bulan depan?” Irene menggeleng.

“Tapi kan Hyo Joo udah libur, emang kamu banyak kerjaan,”

“Dokter bilang aku ngak boleh melakukan perjalanan jauh,”

“Memangnya kamu kenapa?, sakit?, kok ngak cerita,” Seungwan membalikkan tubuh Irene menghadap ke arahnya. Irene bisa meihat wajah khawatir Seungwan.

“Aku hamil Seungwan,” bisik Irene di telinga suaminya.

“Benarkah?” mata yang khawatir itu berubah berbinar bahagia, ia bahkan hampir menitikkan air mata bahagianya.

“Maaf ya udah ngerusak mood kamu,” ujarnya lagi sambil mengecup bibir Irene pelan.

“Its ok,” Irene memeluk Seungwan erat, pelukan itu lah yang selama ini Irene rindukan, karena di dalam pelukan Seungwan lah tempat ternyaman bagi Irene.

Like this story? Give it an Upvote!
Thank you!
Dhedhe0788
Semoga cerita ini menghibur kalian semua ya
Aku harap bisa bikin cerita lain.
Bye
No comments yet